_
Kalau kita berbicara tentang kematian, secara tidak langsung itulah yang ditunggu-tunggu manusia yang sadar bahwa tanpa kematian tidak ada proses pada kehidupan yang kekal dan abadi.

Kematian itu adalah proses alami yang harus berlaku bagi setiap manusia yang beragama (menurut kepercayaan), dan khususnya Dalihan Natolu, mempunyai arti tersendiri sehingga tidak lepas dari bagian Adat dan Budaya Batak.

Dalam hal ini kita dapat mengamati pada acara dan Upacara yang berlaku di masyarakat Dalihan Natolu khususnya di Jabotabek dalam segala usia dan menurut kebiasaan yang dilakukan. Oleh karena itu perlu kita ajukan suatu acuan pedoman yang diharapkan dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat Dalihan Natolu dalam pelaksanaan Adat kematian dimasa mendatang.

Kita dapat membedakan Adat Kematian dalam masyarakat Dalihan Natolu berdasarkan agama  (dapat dijelaskan secara singkat).

Macam atau Ragam Adat bagi warga yang meninggal dunia :

TILAHA : Kematian bagi warga Dalihan Natolu berkeluarga yang biasa disebut NAPOSO dalam hal ini perlakuan.

PONGGOL ULU (SUAMI) : Kematian yang diakibatkan si suami lebih dahulu meninggal dunia daripada si istri, dalam hal ini usia muda dan belum punya cucu atau belum punya keturunan.

MATOMPAS TATARING (ISTRI) : Kematian yang diakibatkan si istri lebih dahulu meninggal daripada si suami, dalam hal ini usia muda dan belum punya cucu atau belum punya keturunan.

SAUR MATUA : Kematian yang diakibatkan meninggalnya salah satu dari suami/istri yang sudah mempunyai cucu dan semua anak-anaknya sudah berkeluarga.

MATUA BULUNG : Kematian yang diakibatkan meninggalnya salah satu dari suami/istri yang telah mempunyai cucu bahkan sudah mempunyai cicit atau disebut Nini/Nono dengan lanjut usia.

Nini : Disebut keturunan dari anak laki-laki

Nono : Disebut keturunan dari anak perempuan

Bagaimanakah hubungannya kematian tersebut dengan Adat Dalihan Natolu, dalam hal ini lebih dahulu kita harus mengetahui yang meninggal termasuk golongan mana dari Ragam kematian tersebut diatas untuk menempatkan Adat juga hubungannya dengan Ulos.

 

Dalihan Natolu mempunyai 3 hal yang berhubungan dengan Ulos:

Pemberian ULOS SAPUT :

Ulos ini diberikan kepada yang meninggal dunia sebagai tanda perpisahan. Siapakah yang berhak memberikan SAPUT tersebut, dalam hal ini perlu kita mempunyai satu persepsi untuk masa yang akan datang karena hal ini banyak berbeda pendapat menurut lingkungannya masing-masing, misalnya HULA-HULA/TULANG.

 

Pemberian ULOS TUJUNG :

Dalam hal ini semua dapat menyetujui dari pihak HULA-HULA

 

Pemberian ULOS HOLONG :

Dari semua pihak Hula-hula , Tulang , Tulang Rerobot , Bona Tulang bahkan Bona ni Ari termasuk dari Hula-hula ni na Marhaha Maranggi , Hula-hula ni Anak Manjae , berhak memberikan kepada Keluarga yang meninggal.

Bagaimanakah hubungannya dengan Adat Dalihan Natolu diluar Ulos tersebut yang mempunyai harga diri (dalam Pesta Adat). Dalam hal ini terjadilah beberapa pelaksanaan setelah adanya Musyawarah atau lazim disebut RIA RAJA oleh beberapa Dalian Natolu disebut Boanna. Boan ini (yang dipotong pada hari Hnya) terdiri dari beberapa macam :

Misalnya :

Babi/Kambing, disebut Siparmiak-miak

Sapi, disebut Lombu Sitio-tio

Kerbau, disebut Gajah Toba

Sesuai dengan Adat Dalihan Natolu tingkatan daripada Boan tersebut disesuaikan dengan Parjambaron.

Fungsi Dalihan Natolu menggunakan istilah Adat :


Pangarapotan : Adalah suatu penghormatan kepada yang meninggal yang mempunyai gelar Sari Matua dan lain-lain sebelum acara besarnya dan penguburannya atau dihalaman (bilamana memungkinkan). Dalam hal ini suhut dapat meminta tumpak (bantuan) secara resmi dari family yang tergabung dalam Dalihan Natolu disebut Tumpak di Alaman.

 

Partuatna : hari yang dianggap menyelesaikan Adat kepada seluruh halayat Dalihan Natolu yang mempunyai hubunngan berdasarkan adat. Pada waktu pelaksanaan ini pulu Suhut akan memberikan Piso-piso/stuak Natonggi kepada kelompok Hula-hula/Tulang yang mana memberikan Ulos tersebut diatas kepada yang meninggal dan keluarga dan pemberian uang ini oleh keluarga tanda kasihnya.. Juga pada waktu bersamaan ini pula dibagikan jambar-jambar sesuai dengan fungsinya masing-masing dengan azas musyawarah sebelumnya, setelah itu dilaksanakanlah upacara adat mandokon hata dari masing-masing pihak sesuai dengan urutan-urutan secara tertulis. Setelah selesai, bagi orang Kristen diserahkan kepada Gereja (Huria) untuk seterusnya dikuburkan.

 

 
 
2.000 NASKAH ADAT BATAK BERADA DI BELANDA DAN JERMAN_

Staf Perpustakaan Nasional merapikan catatan katalog koleksi data yang masih dilakukan dengan sistem katalogisasi manual di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Salemba, Jakarta .  Saat ini Perpustakaan Nasional sedang menyiapkan sistem digitalisasi pada materi maupun sistem database koleksi sehingga akan lebih mudah diakses dan dimanfaatkan masyarakat.

 

 

Sekitar 2.000 lebih naskah asli adat Batak dan 1.000 di antaranya terbuat dari kulit kayu saat ini berada di negeri Belanda dan Jerman. Profesor. Dr. Uli Kozok MA dari University of Hawaii, Minoa, Amerika, di Medan, Kamis, mengatakan, ribuan naskah asli adat Batak tersebut dibawa ke luar negeri ketika masa penjajahan Belanda dan masa Zending I.L Nomensen di tanah Batak.

 

Saat ini baru dua naskah yang bisa diakses untuk umum karena telah diolah dalam bentuk digital, sementara selebihnya belum dapat diakses karena masih dalam bentuk asli dan dikuatirkan akan rusak jika diakses untuk umum.

"Isinya pada umunya berupa instruksi atau tatacara upacara ritual keagamaan, cara mengalahkan musuh dalam peperangan, puisi-puisi cinta, dan tradisi, serta budaya Batak lainnya," katanya.

 

Ribuan naskah tersebut lebih aman dan terjamin kelestariannya jika berada di luar negeri, karena kalau di luar negeri peluang untuk diperjualbelikan atau disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab jauh lebih kecil.

"Selama ini di Indonesia banyak benda budaya yang seharusnya dirawat tetapi malah diperjualbelikan. Makanya lebih baik naskah-naskah asli tersebut lebih aman jika berada di luar negeri," katanya.

 

Menurut ahli sejarah itu, pembuatan naskah dan budaya Batak dalam bentuk digital dewasa ini sangat diperlukan, mengingat setiap naskah yang berada di luar negeri itu tidak mudah dibawa kembali ke Indonesia.

"Kalau sudah dalam bentuk digital akan mudah diakses oleh siapa saja termasuk juga oleh ilmuan-ilmuan yang meneliti lebih jauh tentang adat-istiadat suku Batak," katanya.(ANT)

 
 
__


 

Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba) atau TOLU SAHUNDULAN ( bahasa Simalungun).
Dalihan dapat diterjemahkan sebagai “tungku” dan “sahundulan” sebagai “posisi duduk”.Keduanya mengandung arti yang sama, 3 POSISI PENTING dalam kekerabatan orang Batak, yaitu:

 

1.  HULA HULA atau TONDONG, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di atas”, yaitu keluarga marga pihak istri sehingga disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan.

 

2.  DONGAN TUBU atau SANINA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar”, yaitu: teman/saudara semarga sehingga disebut MANAT MARDONGAN TUBU, artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.

 

3.  BORU, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di bawah”, yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari disebut ELEK MARBORU artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat.

Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut: ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU. Dengan Dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat. Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal. 


 
 
Picture
Pemain yang biasa beroperasi di lini tengah klub Cagliari, Radja Nainggolan menjadi incaran AC Milan lantaran performa gemilang yang ditampilkannya selama musim ini. Jika terealisasi, Nainggolan dapat hengkang dari Cagliari di akhir musim nanti.

Seperti yang dilansir harian La Gazzetta dello Sport, Rossoneri sedang dalam perburuan untuk mencari seorang gelandang tengah yang sesuai untuk menggantikan posisi dari Gennaro Gattuso yang sudah semakin berumur.

Milan mempertimbangkan Nainggolan, pemain berusia 22 tahun ini, sebagai pengganti yang sesuai untuk gelandang veteran timnas Italia ini untuk periode jangka panjang.

Radja Nainggolan memulai karirnya bersama klub asal Belgia, Germinal Beerschot, sebelum memutuskan untuk bergabung dengan Piacenza di tahun 2005.

Radja Nainggolan pun dengan cepat beradaptasi dan menjadi salah satu pilar utama di klub Serie B ini, yang kemudian memutuskan untuk bergabung dengan Cagliari di bulan Januari tahun 2010 lalu.

Gelandang tengah asal Belgia ini sudah lama dikabarkan akan hengkang dari Cagliari dalam waktu beberapa bulan terakhir, tapi the Isolani belum juga menerima penawaran secara resmi untuk Radja Nainggolan, walaupun Milan sudah menyatakan ketertarikan mereka.
 
 
Sesuai permintaan dari teman sesama blogger, aku mempersembahkan suatu cerita yang menceritakan tentang silsilah marga - marga batak sehingga kita semua tahu asal mula nama marga orang batak. Semoga memberikan kepuasan bagi sahabat blogger.

Berikut adalah silsilah marga-marga batak yang berasal dari Si Raja Batak yang disadur dari buku "Kamus Budaya Batak Toba" karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987. Silsilah Raja Batak ini dicoba diterjemahkan dalam bentuk postingan biasa, semoga tidak membingungkan bagi pembaca yang kebetulan ingin mencari asal mula marganya SI RAJA BATAK dan keturunannya.

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu :

1. GURU TATEA BULAN.
2. RAJA ISOMBAON.GURU TATEA BULAN

Dari istrinya yang bernama SI BORU BASO BURNING, GURU TATEA BULAN memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :

- Putra :
a. SI RAJA BIAK-BIAK, pergi ke daerah Aceh.
b. TUAN SARIBURAJA.
c. LIMBONG MULANA.
d. SAGALA RAJA.
e. MALAU RAJA.

- Putri :
1. SI BORU PAREME, kawin dengan TUAN SARIBURAJA.
2. SI BORU ANTING SABUNGAN, kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA, putra RAJA ISOMBAON.
3. SI BORU BIDING LAUT, juga kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA.
4. SI BORU NAN TINJO, tidak kawin (banci).

TATEA BULAN artinya "TERTAYANG BULAN" = "TERTATANG BULAN".
RAJA ISOMBAON (RAJA ISUMBAON) RAJA ISOMBAON artinya RAJA YANG DISEMBAH. Isombaon kata dasarnya somba (sembah).

Semua keturunan SI RAJA BATAK dapat dibagi atas 2 golongan besar :
a. Golongan TATEA BULAN = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga GOLONGAN HULA-HULA = MARGA LONTUNG.
b. Golongan ISOMBAON = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga GOLONGAN BORU = MARGA SUMBA.

Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera SI SINGAMANGARAJA), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan SI RAJA BATAK.

SARIBURAJA dan Marga-marga Keturunannya SARIBURAJA adalah nama putra kedua dari GURU TATEA BULAN. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama SI BORU PAREME dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis).
Mula-mula SARIBURAJA kawin dengan NAI MARGIRING LAUT, yang melahirkan putra bernama RAJA IBORBORON (BORBOR). Tetapi kemudian SI BORU PAREME menggoda abangnya SARIBURAJA, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.
Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu LIMBONG MULANA, SAGALA RAJA, dan MALAU RAJA, maka ketiga bersaudara tersebut sepakat untuk membunuh SARIBURAJA. Akibatnya SARIBURAJA menyelamatkan diri dan pergi mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan SI BORU PAREME yang sedang dalam keadaan hamil.

Ketika SI BORU PAREME hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, Tetapi di hutan tersebut SARIBURAJA kebetulan bertemu kembali dengan SI BORU PAREME.
SARIBURAJA datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi "istrinya" di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan SI BORU PAREME di dalam hutan. SI BORU PAREME kemudian melahirkan seorang putra yang diberi nama SI RAJA LONTUNG.

Dari istrinya sang harimau, SARIBURAJA memperoleh seorang putra yang diberi nama SI RAJA BABIAT. Di kemudian hari SI RAJA BABIAT mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga BAYOANGIN, karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya.

SARIBURAJA kemudian berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus. SI RAJA LONTUNG, Putra pertama dari TUAN SARIBURAJA. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu :

- Putra :
a. TUAN SITUMORANG, keturunannya bermarga SITUMORANG.
b. SINAGA RAJA, keturunannya bermarga SINAGA.
c. PANDIANGAN, keturunannya bermarga PANDIANGAN.
d. TOGA NAINGGOLAN, keturunannya bermarga NAINGGOLAN.
e. SIMATUPANG, keturunannya bermarga SIMATUPANG.
f. ARITONANG, keturunannya bermarga ARITONANG.
g. SIREGAR, keturunannya bermarga SIREGAR.

- Putri :
a. SI BORU ANAKPANDAN, kawin dengan TOGA SIHOMBING.
b. SI BORU PANGGABEAN, kawin dengan TOGA SIMAMORA.

Karena semua putra dan putri dari SI RAJA LONTUNG berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama LONTUNG SI SIA MARINA, PASIA BORUNA SIHOMBING SIMAMORA. SI SIA
MARINA = SEMBILAN SATU IBU.

Dari keturunan SITUMORANG, lahir marga-marga cabang LUMBAN PANDE, LUMBAN NAHOR, SUHUTNIHUTA, SIRINGORINGO,
SITOHANG, RUMAPEA, PADANG, SOLIN.

Dari keturunan SINAGA, lahir marga-marga cabang SIMANJORANG, SIMANDALAHI, BARUTU. Dari keturunan PANDIANGAN, lahir
marga-marga cabang SAMOSIR, GULTOM, PAKPAHAN, SIDARI, SITINJAK, HARIANJA.

Dari keturunan NAINGGOLAN, lahir marga-marga cabang RUMAHOMBAR, PARHUSIP, BATUBARA, LUMBAN TUNGKUP, LUMBAN SIANTAR, HUTABALIAN, LUMBAN RAJA, PUSUK, BUATON, NAHULAE.

Dari keturunan SIMATUPANG lahir marga-marga cabang
TOGATOROP (SITOGATOROP), SIANTURI, SIBURIAN.

Dari keturunan ARITONANG, lahir marga-marga cabang OMPU SUNGGU, RAJAGUKGUK, SIMAREMARE.

Dari keturunan SIREGAR, lahir marga-marga cabang SILO, DONGARAN, SILALI, SIAGIAN, RITONGA, SORMIN.

SI RAJA BORBOR Putra kedua dari TUAN SARIBURAJA, dilahirkan
oleh NAI MARGIRING LAUT. Semua keturunannya disebut marga BORBOR. Cucu RAJA BORBOR yang bernama DATU TALADIBABANA (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :
1. DATU DALU (SAHANGMAIMA), Keturunan DATU DALU melahirkan marga-marga berikut :
a. PASARIBU, BATUBARA, HABEAHAN, BONDAR, GORAT.
b. TINENDANG, TANGKAR.
c. MATONDANG.
d. SARUKSUK.
e. TARIHORAN.
f. PARAPAT.
g. RANGKUTI.

2. SIPAHUTAR, keturunannya bermarga SIPAHUTAR.
3. HARAHAP, keturunannya bermarga HARAHAP.
4. TANJUNG, keturunannya bermarga TANJUNG.
5. DATU PULUNGAN, keturunannya bermarga PULUNGAN.
6. SIMARGOLANG, keturunannya bermarga SIMARGOLANG.

Keturunan DATU PULUNGAN melahirkan marga-marga LUBIS dan HUTASUHUT. LIMBONG MULANA dan Marga-marga Keturunannya LIMBONG MULANA adalah putra ketiga dari GURU TATEA BULAN. Keturunannya bermarga LIMBONG. Dia mempunyai 2 orang putra, yaitu PALU ONGGANG dan LANGGAT LIMBONG.
Putra dari LANGGAT LIMBONG ada 3 orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga SIHOLE dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga HABEAHAN. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu LIMBONG.

SAGALA RAJA Putra keempat dari GURU TATEA BULAN. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga SAGALA.

LAU RAJA dan Marga-marga Keturunannya LAU RAJA adalah putra kelima dari GURU TATEA BULAN. Keturunannya bermarga MALAU. Dia mempunyai 4 orang putra, yaitu :
a. PASE RAJA, keturunannya bermarga PASE.
b. AMBARITA, keturunannya bermarga AMBARITA.
c. GURNING, keturunannya bermarga GURNING.
d. LAMBE RAJA, keturunannya bermarga LAMBE. Salah seorang keturunan LAU RAJA diberi nama MANIK RAJA, yang kemudian menjadi asal-usul lahirnya marga MANIK.

TUAN SORIMANGARAJA dan Marga-marga KeturunannyaTUAN SORIMANGARAJA adalah putra pertama dari RAJA ISOMBAON. Dari ketiga putra RAJA ISOMBAON, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
a. SI BORU ANTING MALELA (NAI RASAON), putri dari GURU TATEA BULAN.
b. SI BORU BIDING LAUT (NAI AMBATON), juga putri dari GURU TATEA BULAN.
c. SI BORU SANGGUL HAOMASAN (NAI SUANON).

SI BORU ANTING MALELA melahirkan putra yang bernama TUAN SORBA DJULU (OMPU RAJA NABOLON), gelar NAI AMBATON.

SI BORU BIDING LAUT melahirkan putra yang bernama TUAN SORBA DIJAE (RAJA MANGARERAK), gelar NAI RASAON.
SI BORU SANGGUL HAOMASAN melahirkan putra yang bernama TUAN SORBADIBANUA, gelar NAI SUANON.

NAI AMBATON (TUAN SORBA DJULU / OMPU RAJA NABOLON) Nama (gelar) putra sulung TUAN SORIMANGARAJA lahir dari istri pertamanya yang bernama NAI AMBATON. Nama sebenarnya adalah OMPU RAJA NABOLON, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga NAI AMBATON menurut nama ibu leluhurnya.NAI AMBATON mempunyai 4 orang putra, yaitu :
a. SIMBOLON TUA, keturunannya bermarga SIMBOLON.
b. TAMBA TUA, keturunannya bermarga TAMBA.
c. SARAGI TUA, keturunannya bermarga SARAGI.
d. MUNTE TUA, keturunannya bermarga MUNTE (MUNTE, NAI MUNTE, atau DALIMUNTE). Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung) :

a. Dari SIMBOLON : TINAMBUNAN, TUMANGGOR, MAHARAJA, TURUTAN, NAHAMPUN, PINAYUNGAN. Juga marga-marga BERAMPU dan PASI.
b. Dari TAMBA : SIALLAGAN, TOMOK, SIDABUTAR, SIJABAT, GUSAR, SIADARI, SIDABOLAK, RUMAHORBO, NAPITU.
c. Dari SARAGI : SIMALANGO, SAING, SIMARMATA, NADEAK, SIDABUNGKE.
d. Dari MUNTE : SITANGGANG, MANIHURUK, SIDAURUK, TURNIP, SITIO, SIGALINGGING.

Keterangan lain mengatakan bahwa NAI AMBATON mempunyai 2 orang putra, yaitu SIMBOLON TUA dan SIGALINGGING.
SIMBOLON TUA mempunyai 5 orang putra, yaitu SIMBOLON, TAMBA, SARAGI, MUNTE, dan NAHAMPUN. Walaupun keturunan NAI AMBATON sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antar sesama marga keturunan NAI AMBATON.
Catatan mengenai OMPU BADA, menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung, OMPU BADA tersebut adalah keturunan NAI AMBATON pada sundut kesepuluh.Menurut keterangan dari salah seorang keturunan OMPU BADA (MPU BADA) bermarga GAJAH, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut :
a. MPU BADA ialah asal-usul dari marga-marga TENDANG, BUNUREA, MANIK, BERINGIN, GAJAH, dan BARASA.
b. Keenam marga tersebut dinamai SIENEMKODIN (Enem = enam, Kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan MPU BADA pun dinamai SIENEMKODIN.
c. MPU BADA bukan keturunan NAI AMBATON, juga bukan keturunan SI RAJA BATAK dari Pusuk Buhit.
d. Lama sebelum SI RAJA BATAK bermukim di Pusuk Buhit, OMPU BADA telah ada di tanah Dairi. Keturunan MPU BADA merupakan ahli-ahli yang trampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
e. Keturunan MPU BADA menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah Dairi dan Tapanuli bagian barat.

NAI RASAON (RAJA MANGARERAK) : nama (gelar) putra kedua dari TUAN SORIMANGARAJA, lahir dari istri kedua TUAN SORIMANGARAJA yang bernama NAI RASAON. Nama sebenarnya ialah RAJA MANGARERAK, tetapi hingga sekarang semua keturunan RAJA MANGARERAK lebih sering dinamai orang NAI RASAON. RAJA MANGARERAK mempunyai 2 orang putra, yaitu RAJA MARDOPANG dan RAJA MANGATUR.

Ada 4 marga pokok dari keturunan RAJA MANGARERAK :
a. Dari RAJA MARDOPANG, menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga SITORUS, SIRAIT, dan BUTAR BUTAR.
b. Dari RAJA MANGATUR, menurut nama putranya, TOGA MANURUNG, lahir marga MANURUNG. Marga PANE adalah marga cabang dari SITORUS.
NAI SUANON (TUAN SORBADIBANUA) : nama (gelar) putra ketiga dari TUAN SORIMANGARAJA, lahir dari istri ketiga TUAN SORIMANGARAJA yang bernama NAI SUANON. Nama sebenarnya
ialah TUAN SORBADIBANUA, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai TUAN SORBADIBANUA. TUAN SORBADIBANUA mempunyai 2 orang istri dan memperoleh 8 orang putra. Dari istri pertama (putri SARIBURAJA) :
a. SI BAGOT NI POHAN, keturunannya bermarga POHAN.
b. SI PAET TUA.
c. SI LAHI SABUNGAN, keturunannya bermarga SILALAHI.
d. SI RAJA OLOAN.
e. SI RAJA HUTA LIMA. Dari istri kedua (BORU SIBASOPAET, putri Mojopahit) :
a. SI RAJA SUMBA.
b. SI RAJA SOBU.
c. TOGA NAIPOSPOS, keturunannya bermarga NAIPOSPOS. Keluarga TUAN SORBADIBANUA bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, TUAN SORBADIBANUA menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata SI RAJA HUTA LIMA terkena oleh lembing SI RAJA SOBU. Hal tersebut
mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh TUAN SORBADIBANUA. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang 3 orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki gunung Dolok Tolong sebelah barat.
Keturunan TUAN SORBADIBANUA berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.

Keturunan SI BAGOT NI POHAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :
a. TAMPUBOLON, BARIMBING, SILAEN.
b. SIAHAAN, SIMANJUNTAK, HUTAGAOL, NASUTION.
c. PANJAITAN, SIAGIAN, SILITONGA, SIANIPAR, PARDOSI.
d. SIMANGUNSONG, MARPAUNG, NAPITUPULU, PARDEDE.

Keturunan SI PAET TUA melahirkan marga dan marga cabang berikut :
a. HUTAHAEAN, HUTAJULU, ARUAN.
b. SIBARANI, SIBUEA, SARUMPAET.
c. PANGARIBUAN, HUTAPEA

Keturunan SI LAHI SABUNGAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :
a. SIHALOHO.
b. SITUNGKIR, SIPANGKAR, SIPAYUNG.
c. SIRUMASONDI, RUMASINGAP, DEPARI.
d. SIDABUTAR.
e. SIDABARIBA, SOLIA.
f. SIDEBANG, BOLIALA.
g. PINTUBATU, SIGIRO.
h. TAMBUN (TAMBUNAN), DOLOKSARIBU, SINURAT, NAIBORHU, NADAPDAP, PAGARAJI, SUNGE, BARUARA, LUMBAN PEA, LUMBAN GAOL.

Keturunan SI RAJA OLOAN melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. NAIBAHO, UJUNG, BINTANG, MANIK, ANGKAT, HUTADIRI, SINAMO, CAPA.
b. SIHOTANG, HASUGIAN, MATANIARI, LINGGA, MANIK.
c. BANGKARA.
d. SINAMBELA, DAIRI.
e. SIHITE, SILEANG.
f. SIMANULLANG.

Keturunan SI RAJA HUTA LIMA melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. MAHA.
b. SAMBO.
c. PARDOSI, SEMBIRING MELIALA.

Keturunan SI RAJA SUMBA melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. SIMAMORA, RAMBE, PURBA, MANALU, DEBATARAJA, GIRSANG, TAMBAK, SIBORO.
b. SIHOMBING, SILABAN, LUMBAN TORUAN, NABABAN, HUTASOIT, SITINDAON, BINJORI.

Keturunan SI RAJA SOBU melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. SITOMPUL.
b. HASIBUAN, HUTABARAT, PANGGABEAN, HUTAGALUNG, HUTATORUAN, SIMORANGKIR, HUTAPEA, LUMBAN TOBING, MISMIS.

Keturunan TOGA NAIPOSPOS melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. MARBUN, LUMBAN BATU, BANJARNAHOR, LUMBAN GAOL, MEHA, MUNGKUR, SARAAN.
b. SIBAGARIANG, HUTAURUK, SIMANUNGKALIT, SITUMEANG.

***DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)

Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga
dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga). Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut: "Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang; Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan", artinya: "Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput; Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji". Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:
a. MARBUN dengan SIHOTANG.
b. PANJAITAN dengan MANULLANG.
c. TAMPUBOLON dengan SITOMPUL.
d. SITORUS dengan HUTAJULU - HUTAHAEAN - ARUAN.
e. NAHAMPUN dengan SITUMORANG.

CATATAN TAMBAHAN:

1. Selain PANE, marga-marga cabang lainnya dari SITORUS adalah BOLTOK dan DORI.

2. Marga-marga PANJAITAN, SILITONGA, SIANIPAR, SIAGIAN, dan PARDOSI tergabung dalan suatu punguan (perkumpulan) yang bernama TUAN DIBANGARNA.
Menurut yang saya ketahui, dahulu antar seluruh marga TUAN DIBANGARNA ini tidak boleh saling kawin. Tetapi entah kapan ada perjanjian khusus antara marga SIAGIAN dan PANJAITAN, bahwa sejak saat itu antar mereka (kedua marga itu) boleh saling kawin.

3. Marga SIMORANGKIR adalah salah satu marga cabang dari PANGGABEAN. Marga-marga cabang lainnya adalah LUMBAN RATUS dan LUMBAN SIAGIAN.

4. Marga PANJAITAN selain mempunyai ikatan janji (padan) dengan marga SIMANULLANG, juga dengan marga-marga SINAMBELA dan SIBUEA.

5. Marga SIMANJUNTAK terbagi 2, yaitu HORBOJOLO dan HORBOPUDI. Hubungan antara kedua marga cabang ini tidaklah harmonis alias bermusuhan selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang. (mereka yang masih bermusuhan sering dikecam oleh batak lainnya dan dianggap batak bodoh)

6. TAMPUBOLON mempunyai putra-putra yang bernama BARIMBING, SILAEN, dan si kembar LUMBAN ATAS & SIBULELE. Nama-nama dari mereka tersebut menjadi nama-nama marga cabang dari TAMPUBOLON (sebagaimana biasanya cara pemberian nama marga cabang pada marga-marga lainnya).

7. Pada umumnya, jika seorang mengatakan bahwa dia bermarga SIAGIAN, maka itu adalah SIAGIAN yang termasuk TUAN DIBANGARNA, jadi bukan SIAGIAN yang merupakan marga cabang dari SIREGAR ataupun LUMBAN SIAGIAN yang merupakan marga cabang dari PANGGABEAN. Selanjutnya biasanya marga SIAGIAN dari TUAN DIBANGARNA akan bertarombo kembali menanyakan asalnya dan nomor keturunan. Kebetulan saya marga SIAGIAN dari PARPAGALOTE.

8. Marga SIREGAR, selain terdapat di suku Batak Toba, juga terdapat di suku Batak Angkola (Mandailing). Yang di Batak Toba biasa disebut "Siregar Utara", sedangkan yang di Batak Angkola (Mandailing) biasa disebut "Siregar Selatan".

9. Marga-marga TENDANG, BUNUREA, MANIK, BERINGIN, GAJAH, BARASA, NAHAMPUN, TUMANGGOR, ANGKAT, BINTANG, TINAMBUNAN, TINENDANG, BARUTU, HUTADIRI, MATANIARI, PADANG, SIHOTANG, dan SOLIN juga terdapat di suku Batak Pakpak (Dairi).

10. Di suku Batak Pakpak (Dairi) terdapat beberapa padanan marga yaitu:
a. BUNUREA disebut juga BANUREA.
b. TUMANGGOR disebut juga TUMANGGER.
c. BARUTU disebut juga BERUTU.
d. HUTADIRI disebut juga KUDADIRI.
e. MATANIARI disebut juga MATAHARI.
f. SIHOTANG disebut juga SIKETANG.

11. Marga SEMBIRING MELIALA juga terdapat di suku Batak Karo. SEMBIRING adalah marga induknya, sedangkan MELIALA adalah salah satu marga cabangnya.

12. Marga DEPARI juga terdapat di suku Batak Karo. Marga tersebut juga merupakan salah satu marga cabang dari SEMBIRING.

13. Jangan keliru (bedakan):
a. SITOHANG dengan SIHOTANG.
b. SIADARI dengan SIDARI.
c. BUTAR BUTAR dengan SIDABUTAR.
d. SARAGI (Batak Toba) tanpa huruf abjad "H" dengan SARAGIH (Batak Simalungun) ada huruf abjad "H".

14. Entah kebetulan atau barangkali memang ada kaitannya, marga LIMBONG juga terdapat di suku Toraja di pulau Sulawesi.

15. Marga PURBA juga terdapat di suku Batak Simalungun.
 
 
Bagi anda orang batak, jangan pernah mengaku kalo anda memang benar-benar seorang batak sejati tapi kalau tidak tahu tentang asal-usul marga anda sendiri atau dikenal dalam bahasa batak dengan "MARTAROMBO". Bagi anda orang batak yang kurang paham tentang sumua diatas ada baiknya anda menyimak informasi yang akan saya berikan supaya anda bisa menjelaskan kepada keturunan anda nantinya tentang asal-usul orang batak. Nah, bagi anda yang bukan orang batak namun punya teman orang batak ada baiknya anda juga bisa belajar agar menambah wawasan anda mengenai budaya bangsa kita yaitu bangsa indonesia yang mempunyai keanekaragaman budaya dan adat istiadat.



Sudah kita tidak perlu panjang lebar menjelaskannya, langsung saja kepada inti topik pembahasannya. Nah yang akan saya berikan informasi berikut mengenai keturunan marga dari si raja Lontung. berikut kisahnya :

Si Raja Batak memiliki 3 orang anak yaitu:
1. Guru Tatea Bulan (Nai marata).
2. Si Raja Isumbaon (Nai Sumbaon).
3. Toga Laut (merantau ke Gayo/Alas – Aceh).

Guru Tatea Bulan memiliki 10 anak (5 laki-laki & 5 perempuan) yaitu:
1. Raja Uti, Raja Gumelenggeleng, Raja Biak-biak, Raja Hatorusan, Raja Nasora Mate, Raja Nasora Matua, Partompa Mubauba, Sipagantiganti Rupa.
2. Saribu Raja.
3. Siboru Pareme.
4. Siboru Biding Laut (Boru Anting Haomasan).
5. Limbong Mulana.
6. Siboru Anting Sabungan.
7. Siboru Haomasan (Bunga Haomasan).
8. Sagala Raja.
9. Malau Raja/Silau Raja.
10. Nantinjo Nabolon.

Saribu Raja dan Siboru Pareme adalah anak kembar. Tanpa sepengetahuan yang lain mereka berdua selingkuh dan Siboru Pareme akhirnya berbadan dua. Akihirnya bocorlah rahasia ini dan mereka berdua dikenakan hukuman mati. Tapi secara diam-diam Malau Raja (anak no. 9) membantu mereka berdua untuk melarikan diri ke hutan.

Setelah lama tinggal dihutan, bertemulah Siboru Pareme dengan Babiat Sitempang dan mereka kawin dengan meminta persetujuan Saribu Raja. Saribu Raja menyetujui itu dengan beberapa persyaratan tentunya. Lalu lahirlah Si Raja Lontung dengan wajah uli dan badan berbulu seperti babiat/harimau.

Dari kecil sampai dewasa, Si Raja Lontung selalu lebih pandai dari ayahnya (Babiat Sitempang) bila diajari segala macam hal. Akhirnya, marahlah ayahnya karena ayahnya selalu kalah bila bertarung dengan dia. Maka muncullah niat ayahnya untuk membunuh Si Raja Lontung. Siboru Pareme pun membujuk suaminya untuk belajar lagi ke hutan untuk memperdalam ilmunya supaya bisa mengalahkan anaknya kelak. Diam-diam Siboru Pareme membawa anaknya jauh dari ayahnya agar bisa diselamatkan dari murka ayahnya.

Akhirnya mereka berdua meninggalkan hutan dan menuju ke tepi Tao Toba untuk tinggal dan menetap disana (daerah sabulan). Setelah sekian lama tinggal disana, dibujuklah Si Raja Lontung ini untuk mencari pasangan hidup. Dia disuruh mencari paribannya untuk jadi istrinya di kampung tulangnya di Sianjur Mula-mula. Katanya: `Disana kau akan menemukan pancuran/mata air `Aek Si Pitu Dai’ dimana tempat boru ni tulangmu mandi-mandi’. Siboru Pareme memberikan beberapa petunjuk dan persyaratan ke pada anaknya Si Raja Lontung sebelum berangkat kesana. Dia memberikan cincin dan berkata kepada anaknya:’ Carilah yang mirip dengan wajahku, yang rambutnya sama denganku, dan gayanya mirip dengan gayaku. Temui dan tegurlah dan katakanlah pesan ibumu ini, lalu pasangkanlah cincin ini ke jarinya. Kalau cocok dijarinya, jangan dilepas cincin tersebut tetapi bawalah dia dan jangan mampir lagi ke kampung tulangmu.

Maka berangkatlah Si Raja Lontung menuju ke "Aek Si Pitu Dai", (bahasa indonesianya = air si tujuh rasa) tempat dimana paribannya mandi-mandi. Tanpa sepengetahuan Si Raja Lontung, ibunya pun pergi ke Aek Si Pitu Dai dengan memakai jalan yang lain. Dengan waktu yang sudah diatur, sampailah ibunya terlebih dahulu ke Aek Si Pitu Dai tersebut dan mandi-mandi disitu. Terlihatlah oleh Si Raja Lontung ada perempuan sedang mandi-mandi disitu. Ditemui lah perempuan itu dan ditegurnya yang ternyata cocok dengan persyaratan yang diberikan ibunya. Lalu dipasangkanlah cincin yang dibawanya ke perempuan itu dan ternyata cocok juga. Lalu dibawalah perempuan itu untuk dijadikan istrinya tanpa mampir lagi ke kampung tulangnya. "Jadi dibasa-basahon Tuhanta ma 9 ianakkoni Si Raja Lontung, mauliate ma di Tuhan i",(bahasa indonesianya = Jadi diberkati Tuhan lah anaknya yang sembilan dari si raja lontung, Puji syukurlah kepada Tuhan).

Anak-anak nya Si Raja Lontung (Lontung Si Sia Sada Ina):
1. Toga Sinaga (Bonor, Ompu Ratus, Uruk), Simanjorang, Simaibang, Barutu (Dairi), Bangun (Karo), Parangin-angin (Karo).

2. Toga Situmorang (Raja Pande/Lumban Pande, Raja Nahor/Lumban Nahor, Tuan Suhut ni Huta, Raja Ringo (Siringoringo Raja Dapotan, Siringoringo Pagarbosi, Siringoringo Siagian), Raja Rea/Sipangpang, Tuan Ongar/Rumapea, Sitohang (Uruk, Tonga-tonga, Toruan], Padang, Solin).

3. Toga Pandiangan (Ompu Humirtap/Pandiangan, Si Raja Sonang (Gultom, Samosir, Pakpahan, dan Sitinjak), Harianja, dan Sidari).
Toga Samosir: Rumabolon, Rumasidari (Ompu Raja Minar, Ompu Raja Podu, dan Ompu Raja Horis/Harianja).

Toga Gultom ada 4 bagian:
a. Gultom Huta Toruan: Guru Sinaingan.
b. Gultom Huta Pea: Somorong, Si Palang Namora, dan Si Punjung. Si Palang Namora: Tumonggopulo, Namoralontung, Namorasende (Ompu Jait Oloan) dan Raja Urung Pardosi/Datuk Tambun (Namora So Suharon, Baginda Raja, Saribu Raja Namora Soaloon, Babiat Gelamun), Pati Sabungan].
c. Gultom Huta Bagot.
d. Gultom Huta Balian.

4. Toga Nainggolan:
a. Toga Sibatu (Sibatuara, Parhusip)
b. Toga Sihombar (Rumana hombar, Lbn. Nahor, Lbn. Tungkup, Lbn. Raja, Lbn. Siantar, Hutabalian, Pusuk, Buaton, Nahulae).
5. Toga Simatupang (Togatorop, Sianturi, Siburian).
6. Toga Siregar (Silo, Dongoran, Silali/Ritonga/Sormin, Siagian).
7. Toga Aritonang (Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare).
8. Siboru Amak Pandan, nikah dengan (muli tu) Toga Sihombing.
9. Siboru Panggabean, nikah dengan (muli tu) Toga Simamora.

ket: 1> muli tu = kawin dengan/nikah dengan. 2> ompu[dibaca=oppung] = kakek/nenek.
 
 
Picture
Indonesia pantas berbangga kepada Radja Nainggolan. Di tengah maraknya agenda naturalisasi, pemain berdarah Indonesia ini mampu mencetak gol di Liga Italia (Serie A).

Pemain berdarah Batak ini membawa klubnya, Cagliari menaklukkan Bologna 2-0, Minggu 31 Oktober 2010, dalam lanjutan Serie A. Radja mencetak gol kedua Cagliari pada menit 78 lewat tendangan voli kaki kiri.

Ini merupakan gol pertama Radja di Serie A. Sejak dipinjam dari klub Serie B, Piacenza pada Januari 2010, permainan gelandang 22 tahun ini semakin matang.

Bukan mustahil, gelandang bertinggi 177 cm ini akan memikat para pemandu bakat Serie A kelak. Sebelumnya, Radja sempat diincar AS Roma dan Fiorentina.

Makin harum pula nama Indonesia, meski Radja tak bisa memperkuat tim nasional Tanah Air nya itu. Radja telah memutuskan untuk
mengenakan kostum tim nasional Belgia sejak 2009.

Gol pertama Cagliari dicetak Nene pada menit ke-51. Sukses mengalahkan Bologna membuat Cagliari meninggalkan papan bawah klasemen sementara, dan menduduki peringkat ke-13 dengan 10 poin. Sedangkan Bologna menempati posisi kedua dari bawah, karena baru meraih delapan poin. (rco)

 
 
Picture
PSSI terus memanggil sejumlah nama untuk mengikuti seleksi timnas U-23 yang dipersiapkan ke Pra Olimpiade 2012 dan SEA Games 2011. Tak ketinggalan pemain asing juga akan diikut sertakan dalam seleksi tersebut.

Terdapat empat pemain asing akan mengikuti seleksi timnas. Dari sejumlah pemain asing yang dipanggil, tercatat nama James Zaidan Saragih. Mungkin banyak yang belum tahu tentang pemain yang merumput di Amerika Serikat ini.

Kiprah pemain yang biasa dipanggil James ini tidak terlalu familiar bagi pecinta sepakbola tanah air. Pria berusia 19 tahun itu lebih banyak berkiprah di negeri Paman Sam. Ia lahir di New York, dari pasangan asal Indonesia, Nazaruddin Saragih dan Artita.

Selama di New York, seperti dilansir Goal.com, James menghabiskan waktu dua tahun menekuni ODP (Olympic Development Program), sebuah program pengembangan remaja-remaja berbakat di Amerika Serikat dengan tujuan menyaring peserta Olimpiade dari semua cabang olahraga, termasuk sepakbola.

Hasilnya, James mengikuti berbagai turnamen domestik maupun internasional khusus remaja. Beberapa di antaranya adalah The Score Tournaments, Dallas Cup, Las Vegas Mayor's Cup, Zadar International Tournament di Kroasia pada tahun 2005, dan setahun kemudian Thessaloniki's International Tournament di Yunani.

Selain itu, pengagum Wesley Sneijder ini merupakan salah satu pencetak gol terbanyak di ODP, dan sukses membantu timnya juara Region 1. Di sekolahnya, Long Island City High School, James menjadi pemain kunci dan terpilih sebagai Pemain Terbaik 2008.

Pemain berposisi gelandang serang ini sebenarnya pernah mengikuti seleksi Persebaya U-21 pada bulan Maret tahun lalu. Sayangnya, James terkendala masalah administrasi, dan setelah dua bulan berlatih di Surabaya, dia terpaksa kembali ke New York karena belum memperoleh kewarganegaraan Indonesia.

Selasa, 4 Januari 2011 malam kemarin, James datang lagi ke Indonesia guna mengikuti seleksi timnas U-23 Indonesia. Pelatnas dalam rangka persiapan SEA Games dan kualifikasi Olimpiade akan dimulai besok, dan James akan tergabung dengan 33 pemain lainnya untuk tahap seleksi pertama.

"Saya lahir di New York dan otomatis menjadi warga negara Amerika Serikat. Tapi saya ingin memegang paspor Indonesia supaya bisa masuk tim nasional. Saya rela pindah ke Indonesia dan meninggalkan New York," kata James.

Profil singkat James Zaidan:

Nama: James Zaidan Saragih
Lahir: New York, 23 Maret 1991
Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Tinggi: 180 cm.
Berat: 81 Kg.
Klub saat ini: New York Cosmos
 
 
Berikut ini beberapa Falsafah Batak, Umpasa Batak, Umpama Batak

Falsafah Batak:
Dijolo raja sieahan, dipudi raja sipaimaon
(Hormatan do natua-tua dohot angka raja).

Sada silompa gadong dua silompa ubi,
Sada pe namanghatahon Sudema dapotan Uli.

Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok
(Unang maharaphu tu dongan).

Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame
(Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma).

Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara
(Dame ma).

Sungkunon poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo
(Bertanggung-jawab).


UMPASA NI NAPOSO BULUNG(Buat orang-orang muda):

Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.

Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Tobing bahen dongan.

Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.

Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira
Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.

Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila,
Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.

Metmet dope sikkoru da nungga dihandang-handangi,
Metmet dope si boru da nungga ditandang-tandangi.

Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holoan ho do

Rabba na poso, ndang piga tubuan lata
Hami na poso, ndang piga na umboto hata

UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP (Untuk pasangan saat tukar cincin):

Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna,
Nunga hujalo hami tintin marangkup,
Dohonon ma hata pasu-pasuna.

Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang
Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.

Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere,
Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.

Amak do rere, dakka do dupang,
Anak do bere, Amang do Tulang.

Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua,
Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.

UMPASA TU NA BARU MARBAGAS (Untuk pasangan yang baru menikah):

Dakka ni arirang, peak di tonga onan,
Badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman.

Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru,
Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.

Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang,
Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.

Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,
Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.

Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,
Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.

Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,
Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.

Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut
Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut.

Ruma ijuk tu ruma gorga,
Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha.

Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,
Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.

Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,
Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.

Andor hadukka ma patogu-togu lombu,
Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu.

UMPASA MANGAMPU:

Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan,
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon,
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon.

Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora.
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan,
Napogos hian iba, boi do gabe mamora.

Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna,
Sai dijangkon tondi ma dohot badan.

Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan
Angka pasu-pasu na pinasahat muna,
Sai sude mai dipasaut Tuhan.

Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.

Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami,
Diampu hami ma di tonga jabu.

Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai unang ma muba, unang mose.

Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.

Obuk do jambulan, nidandan ni boru Samara
Pasu-pasu na mardongan tangiang sian hula-hula,
Mambahen marsundut-sundut soada mara.

Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami,
Sai horas ma nang hamu hula-hula.

Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.

Umpasa na asing
Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma,
Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna.

Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe.

Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar.

Sinuan bulu sibahen na las,
Tabahen uhum mambahen na horas.

Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.

Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.

Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna.

Tuat si puti, nakkok sideak,
Ia i na ummuli, ima ta pareak.

Aek godang tu aek laut,
Dos ni roha sibaen na saut.

Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman.

Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari.

Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.

Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura,
Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua.

Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora
Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.
Click to set custom HTML
 
 
Pelayaran orang Mesir kuno ke berbagai belahan dunia telah diketahui bermula sekitar 4000 tahun yang lalu. Setidaknya berbagai literatur dan bukti-bukti sejarah telah mengarah kepada adanya pelayaran kuno yang bahkan telah sampai ke benua Amerika beberapa abad sebelum ditemukan oleh Colombus.



Para arekeolog telah menemukan sisa-sia kapal berusia 4000 tahun, kapal tertua yang menjelajahi lautan dunia, di goa-goa dekat Laut Merah. Keenam goa buatan manusia itu digali di Wadi Gawasis, sekitar 13 mil (21 Kilometer) selatan pelabuhan Safaga. Kapal itu mungkin merupakan salah satu dari beberapa kapal yang digunakan Ratu Mesir Hatshepsut untuk ekspedisi perdagangan ke selatan Laut Merah pada sekitar 1500 SM.

Beberapa benda ditemukan seperti papan-papan dan kayu-kayu dek, dayung, kotak-kotak kargo, jangkar-jangkar batu, pot-pot tembikar, dan gulungan tali yang masih utuh di dalam gua. Kondisi papan kayu dan artefak yang lain tersebut mengindikasikan bahwa orang-orang Mesir tampaknya membawa kapal-kapal itu dalam bentuk kepingan sejauh 90 mil (145 kilometer) dari padang pasir terbuka menuju Laut Merah, di mana kemudian kapal tersebut dirakit menjadi sebuah kapal yang utuh.

Huruf hieroglif pada pot tembikar dari goa tersebut memperlihatkan detail ekspedisi perdagangan ke Punt. Punt atau yang diartikan Tanah Tuhan, merupakan pusat perdagangan yang misterius dari mana orang-orang Mesir memperoleh dupa (kemenyan) dan barang-barang berharga lainnya.

Para akademisi bertahun-tahun memperdebatkan letak Punt serta bagaimana orang Mesir pergi dan pulang dari tempat yang menjadi “dongeng” itu. Inilah yang menjadi masalah? Di manakah Punt itu sebenarnya? Bila kita melihat bahwa tujuan pelayaran tersebut adalah mencari dupa, bukankah dari dulu kala tempat muasal dupa dan kemenyan adalah di tanah Batak. Apakah Punt tersebut adalah Pancur, Pansur atau Fansur atau yang disebut oleh orang Cina dengan istilah P'o-lu atau P'o-lu-shih??? Dari manakah Ptolemy menemukan Barus, Tanah Batak, di abad ke-2 SM, kalau bukan dari tradisi berlayar bangsa Mesir sejak zaman kuno?

Dalam tulisannya La Cola del Dragón, Paul Gallez mengemukakan sebuah perkiraannya yang menjelaskan pelayaran kuno ke tanah yang jauh yang sampai sekarang masih misterius. Sebuah pelayaran yang dikatakan menuju Tanah Punt (Richard Hennig, Terrae Incognitae, 4 vols, Leiden, Brill 1950, in vol. I, pages 5-13).

Inilah sebuah pelayaran yang pernah dikenal dalam sejarah (mungkin saja sebelumnya ada) yang dikirim oleh Dinasti kelima Fir’aun, dalam pemerintahan Sahure sekitar 2550 SM. Kapal-kapalnya dikatakan membawa kembali kemenyan (dupa), myrrh, emas, perak, kayu-kayu berharga (meranti? yang menjadi andalan tanah Batak) dan para budak, dari Punt dan tanah-tanah dan pulau di sekitarnya.Walaupun begitu, tidak semua barang-barang tersebut didapatkan dari Punt, ada beberapa nama yang disebutkan dalam perjalanan tersebut.

Dinasti Fir’aun dari pemerintahan Asa (Isei) mengulangi ekspedisi Sahure, dan pada tahun 2400 SM dia juga mengirimkan armada lautnya ke Punt. Salah satu putri kaisar dinasti yang keenam tersebut dimasukkan ke peti jenazah untuk dibawa ke Tanah Kematian, bibirnya diwarnai dengan logam keputihan, sebuah benda yang benar-benar belum dikenal di Mesir dan negara-negara tetangganya. Batu yang berada di pusaran Knemhopet, seorang nakhoda dari pulau Elephantine yang telah melakukan sebelas kali perjalanan ke Punt, mempunyai penanggalan yang sama dengan periode perlayaran tersebut (Paul Herrman; La aventura de los primeros descubrimientos, Labor Encyclopaedia, 1967).

Selama pemerintahan Dinasti yang kesembilan, Fir’aun Seanjkare mengirimkan beberapa ekspedisi ke tanah misterius tersebut dengan keberhasilan yang sama. Perjalanan yang paling berhasil dan paling terkenal adalah yang diorganisir oleh Ratu Queen Hatshepsut (kadang-kadang dipanggil Hacheput, Hatcheposut, Huschpeswa, Hatashopsitu, Hachepsowe, Hatasuput and Hatscheposut, 1501-1482 SM) yang diabadikan dalam tulisan di kuil Deir-el-Bahari. Kuil ini dibangun atas prakarsa Ratu di Thebes untuk mengenang jasa-jasa Amen-Ra.

Kekuatan utama dari ekspedisi Ratu terbuat dari lima kapal raksasa untuk ukuran saat itu dengan tiga puluh pelaut per kapalnya. Mereka berlayar menuju ke selatan Laut Merah dan menempuh waktu selama tiga tahun.

Salah satu inskripsi di kuil Deir-el-Bahari mengemukakan: “Penduduk di sana bertanya: Bagaimana kalian bisa sampai ke sini yang belum diketahui oleh manusia? Bagaimana kalian terbang ke sini melalui langit atau apakah kalian sampai ke sini melalui Samudera Luas dari dari arah Tanah Tuhan?” (Richard Hennig: Terrae Incognitae, 4 vols, Leiden, Brill 1950, I, 5, Ophir).

Diyakini bahwa penduduk yang bertanya tersebut adalah penduduk Benua Amerika. Sementara Samudera Luas yang dimaksud adalah Samudera Pasifik dan tanah yang dilalui mereka atau Tanah Tuhan yang dimaksud adalah sebuah daerah sebelum Samudera Pasifik yang menjadi pusat perdagangan saat itu yakni Barus.

Untuk sekedar diketahui, Benua Amerika khususnya peradaban Maya telah melakukan kontak hubungan sejak 4000 tahun yang lalu dengan peradaban Batak yang ditunjukkan dengan adanya transfer teknologi pembuatan kertas dari kulit kayu dari Bangsa Batak ke Bangsa Maya.

Dari legenda kehidupan Ramses IV dari Harris Papyrus di British Library, Ramses III diketahui mengirimkan ekspedisi terakhirnya dalam jumlah besar sekitar 10.000 orang ke Punt sekitar 1180 SM. Sementara itu ekspedisi yang paling terkenal ke Barus terjadi pada sekitar abad ke-2 M oleh Ptolemy.

Para ahli dari Mesir tidak pernah sepakat mengenai makna dari Tanah Punt tersebut. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah Eritrea, Somalia, Zimbabwe, Hadramaut atau India. Tapi melihat dari lamanya berlayar dan muatan-muatan yang mereka bawa yang dimaksud Punt tersebut kemungkinan besar adalah Barus yang juga dikenal dengan nama Pancur yang merupakan penghasil satu-satunya kemenyan dan emas sejak zaman kuno. Kemungkinan besar pula, dari Barus mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke timur melewati Samudera Pasifik sampai ke Benua Amerika yang dihuni oleh Bangsa Maya.

Orang Libya-Mesir Di Amerika Kuno

Pelayaran-pelayaran Dinasti tersebut di atas juga menjadi sangat menarik dengan keberadaan beberapa manuskrip di Benua Amerika, yang menunjukkan adanya pelayaran kuno yang sangat berhasil dari Mesir (Afrika) ke Amerika melalui Nusantara (Barus atau Punt) melewati Samudera India dan Pasifik.

Paul Gallez, menjelaskannya dalam Predescubrimientos de América (Instituto Patagónico, Bahía Blanca 2001, p 52 onwards), yang mengatakan bahwa pada tahun 1976, Barry Fell (América A.C. Los primeros colonizadores del Nuevo Mundo. México, Diana 1983) telah memberikan sebuah terjemahan sebuah inskripsi yang terdiri dari tiga bahasa yang ditemukan di perkuburan di Davenport, Iowa. Inskripsi tersebut terdiri dari bahasa Mesir, Funisia dan Libya.

Batu tersebut bertanggal 800 SM, dalam pemerintahan Dinasti Mesir yang ke-21 yang berpusat di Libya. Kalimat-kalimatnya menjelaskan masalah-masalah astronomi, agama dan tradisi-tradisi dengan huruf-huruf Mesir kuno. Menurut para ahli, mumi-mumi Mesir yang diawetkan dalam masa yang sama menggunakan tembakau dan kokain, dua produk khas dari Amerika. Pemumian di Mesir menggunakan berbagai bahan yang berbeda untuk masa yang berbeda, diyakini kemenyan dan kafur dari Barus juga digunakan sebagai bahan dasar untuk pemumian.

Orang-orang India Micmac dari Arcadia, Kanada, dikatakan dapat membaca tulisan-tulisan hieroglif Mesir kuno yang menunjukkan adanya hubungan antara Mesir dan Amerika zaman kuno. Misteri ini semakin menarik saat diketahui bahwa orang-orang Micmac percaya bahwa mereka menggunakan tulisan-tulisan gambar Mesir dan mereka mempelajarinya dari orang-orang Mesir. Bahkan orang-orang India Algonquin, diketahui, setiap tahun mengadakan upacara untuk menandakan perayaan kedatangan nenek moyang mereka ke Amerika dari laut seberang, namun mereka tidak tahu dari mana asal muasalnya.

Dalam bab yang lain, Fell menunjukkan sebuah inskripsi yang ditemukan di Texas, ditulis dengan bahasa Libya dengan menggunakan huruf Olgam, yang menceritakan kedatangan para pelaut dari sebuah kapal yang dimiliki oleh Raja Shishong, nama dari beberapa raja yang memerintah antara tahun 1000 sampai dengan 800 SM.

Barry Fell yakin bahwa koordinat yang ditemukan di batu prasasti yang ditemukan di Tinguiririca (34º 45´S) merupakan klaim teritorial Mesir. Prasasti tersebut ditemukan oleh Karl Stolp di sebuah gua di Andes pada tahun 1885 dan dipublikasikan pada tahun 1877 di jurnal Sociedad Científica de Chile.

Di tahun yang sama, pada bulan Oktober 1974, Barry Fell menelitik artikel Karl Stolp dengan menjelaskan kembali batu prasasti Tinguririca dan menemukan bahwa tulisan batu tersebut juga menunjukkan bahwa ekspedisi yang sama juga telah singgah di New Guinea. Fell menerjemahkannya sebagai berikut:

“Bagian selatan dari pantai dicapai oleh Mawi. Wilayah ini terdiri dari wilayah tanah pegunungan di bagian selatan, klaim kapten tersebut diwujudkan dalam bentuk proklamasi tertulis atas kepemilikan atas tanah. Armada kapal mencapai batas-batas selatan. Atas nama Raja Mesir, permaisuri dan putera mahkota, nakhoda kapal mengklaim tanah yang memanjang sekitar 4000 mil yang terdiri dari bebatuan, tanah tandus dan sampai ke atas.

Tanggal 5 Agustus, Tahun Keenam Pemerintahan Raja.”

Di saat itu, Fir’aun yang memerintah adalah Ptolemy III Evergetes, nama permaisurinya dalah Berenice dan putera mahkota adalah Fir’aun masa depan yakni Ptolemy IV Philopathor. Bahasanya menggunakan bahwa Libya, yang berhubungan dengan bahasa Mesir dan Maori Kuno; Tulisan Libya telah digunakan selama berabad-abad di Selandia Baru sampai abad ke-15 Masehi. Kemampuan Fell menerjemahkan bahasa Libya dan Maori telah membuat para ahli serius dengan temuannya ini.

Torquetum: Alat Navigasi Kuno

Torquetum adalah instrumen pintar yang dapat digunakan untuk menghitung koordinat tanpa penghitungan rumus-rumus lainnya. Alat ini disebut dengan nama “tanawa” sebelum masehi dan kemudian disebut dengan torquetum pada tahun 1492. Alat ini dapat mengukur jarak bulan dan benda-benda luar angkasa lainnya. Dengan bantuan tabel-tabel astronomi juga dapat mengukur secara kasar koordinat longitudinal.

Alat ini ditemukan di berbagai tempat di dunia. Salah satunya adalah di pantai McCluer dekat Sosora, Irian Jaya di sebuah gua yang disebut Gua Para Nakhoda. Sebuah prasasti kuno telah ditemukan di gua tersebut oleh Barry Fell pada tahun 1970. Dijelaskan bahwa pada tahun 232 SM, sebuah armada Mesir, yang terdiri dari enam kapal dengan komando Rata dan Mawi, seorang teman dari Eratosthenes, berlayar dari Laut Merah dan sampai ke pantai barat Amerika. Informasi ini disampaikan oleh Rick Sanders “Ancient navigators could have measured the longitude”, Oktober 2001, diterbitkan di 21st. Century Science & Technology Magazine. Sebuah prasasti yang berhubungan dengan yang ditemukan di Irian Jaya tersebut juga ditemukan di Tiguiririca (Cili), 34º 45´ S.

Kesimpulan

Argumen-argumen mengenai eksistensi Tanah Batak sebagai Punt atau Tanah Tuhan adalah sebagai berikut:

1. Adanya Barus atau Pancur sebagai Bandar pelabuhan kuno di tanah Batak. Barus telah diakui pernah disinggahi oleh Ptolemy di abad ke-2 M dan itu berdasarkan kepada peta yang dibuat sebelum zaman tersebut.

2. Kemenyan dan dupa, sejak zaman dahulu kala hanya ditemukan di Tanah Batak yang didapat melalui Barus. Mungkin saja kemenyan dapat ditemukan di belahan bumi lainnya, namun fakta sejarah mengatakan transaksi kemenyan yang paling lama ditemukan adalah di Barus. Dan kemenyan dari daerah ini merupakan mutu yang terbaik.

3. Di Barus juga ditransaksikan berbagai logam mulia dan didukung oleh adanya tambang-tambang emas kuno di banyak tempat di Tanah Batak yang tentunya mengundang berbagai bangsa untuk datang berdagang alias membelinya.

4. Terdapat banyak literatur yang mengarah kepada dupa dan kemenyan yang di dapat dari Barus yang diperkuat oleh ketertarikan Bangsa Arab, sebagai bangsa yang paling mengenal peradaban Mesir, Romawi dan Yunani Kuno, untuk mendatangi Fansur dengan sebutan berbagai keistimewaannya.

5. Gambar Naga Padoha diyakini mempunyai kesamaan dengan salah satu gambar dalam karya Ptolemy yang menguatkan eksistensi Barus dan Tanah Batak sebagai Bangsa yang beradab sejak dahulu kala.

6. Adanya hubungan budaya antara Batak dan Maya di benua Amerika yang diperkuat dengan kesamaan budaya teknologi kertas khususnya Maya Yucatan. Yang menunjukkan adanya pelayaran Batak Kuno menuju Benua Amerika melalui Samudera Pasifik

7. Barus dan Tanah Batak merupakan tempat transit pelayaran kuno dari berbagai bangsa kuno, khususnya India dan Cina yang tidak tertutup kemungkinan dari Mesir dalam perjalanan mereka ke timur melewati Samudera Pasifik.

8. Terdapat hubungan budaya yang sangat dekat antara Bangsa Maori di Selandia Baru dengan Mesir dari budaya Libya kuno. Tulisan Libya Kuno pernah dipakai berabad-abad di Selandai baru sampai abad ke-15 M. Kemungkinan besar Bangsa Libya kuno telah lalu lalang dari Afrika menuju Selandia Baru dan titik transit kuno yang paling logis adalah Barus.

9. Tanda bukti pelayaran Kuno Mesir-Libya ke berbagai negara khususnya Amerika telah terbukti dengan temuan prasasti di Irian Jaya dan Cili. Titik-titik ini merupakan jalaur-jalur pelayaran kuno dari Afrika Utara ke Amerika melalui Nusantara selain pelayaran kuno jalur Cina yang juga banyak mengambil jalur di Nusantara Indonesia. Pelabuhan tertua di Nusantara Indonesia adalah Barus.

10. Mengapa disebut Tanah Tuhan??? Pertama karena agama-agama pagan kuno banyak menggunakan kemenyan dalam ‘berkomunikasi’ dengan tuhan-tuhan mereka, dan kemenyan hanya tumbuh di Tanah Batak. Kedua, Produk lain seperti benzoin, kapur dan lain sebagainya yang bermanfaat untuk pengobatan dan pemumian di dapat di Tanah Batak. Apakah ini dapat diperkuat bahwa hanya di Tanah Bataklah sebuah legenda manusia pertama diciptakan langsung oleh Mulajadi Nabolon, tentunya, selain dari informasi Kitab Suci, teori evolusi Darwin dan kepercayaan Sinto.

11. Di berbagai tempat sebelum masuknya Belanda, di tanah Batak juga mengenal tradisi pemumian mayat yang menandakan hubungan kultur yang sangat erat antara Batak dan Mesir kuno, sehingga misteri “Tanah Punt” semakin mudah untuk dipahami.

Mungkin cerita di bawah ini sangat mengada-ngada tapi fakta-fakta di atas sepertinya membuat cerita ini semakin menarik. Dulu, di Bonapasogit, sesama anak-anak sering saling berbagi cerita satu sama lain. Cerita-cerita yang mereka dapat dari orang tua masing-masing. Salah satu cerita tersebut adalah mengenai kedatangan pelaut Mesir ke Barus. Karena sesuatu hal, mereka tidak dapat kembali ke negerinya dan menetap di huta-huta dekat pantai. Tiga orang di antaranya berinisiatif untuk mencari tempat yang lebih nyaman.

Dari pantai mereka berjalan ke desa-desa di perbukitan dan terus menanjak ke arah timur. Setelah tiba di pegunungan sekitar Danau Toba, mereka melihat pemandangan yang sangat indah dan memutuskan untuk menetap di daerah tersebut.

Mereka mencari tempat yang sesuai yang nyaman untuk dihuni. Mereka kemudian memilih satu wilayah yang kalau dari atas dapat melihat danau mengelilingi tempat tersebut. Setelah mereka menetap di sana, barulah orang-orang Batak mengetahui bahwa tanah tersebut telah dihuni oleh tiga orang Mesir.

Ketiga Mesir tersebut akhirnya menikah dengan orang-orang yang lalu lalang dan tempat tersebut akhirnya menjadi ramai. Daerah yang ternyata adalah sebuah pulau di Danau Toba tersebut akhirnya disebut dengan Sam-Mesir. Sam adalah angka tiga yang digunakan pada zaman kuno yang berari tiga. Dan Mesir adalah nama untuk orang Mesir. Sam-Mesir yang berubah menjadi Sam-Sir berarti tanah yang dibuka dan dihuni pertama sekali oleh tiga orang Mesir. Nama Sam-sir akhirnya mengalami perubahan dan akhirnya menjadi Sam-o-sir. Huruf o yang ditengah sepertinya berguna sebagai partikel sambung seperti kata Philosophy yang berasal dari Phil-o-sophy.

Nama Samosir sendiri sekarang ini merupakan nama sebuah pulau di Danau Toba yang menjadi tujuan wisata di Parapat. Kalau dibahas, memang tidak ada arti dari Samosir dari bahasa Batak. Sama seperti beberapa nama yang juga tidak mempunyai arti seperti Toba, Dairi, Balige, dan lain sebagainya. Nama Samosir yang terkenal menjadi aneh, karena biasanya semua nama tempat di Tanah Batak biasanya mempunyai arti yang terbuat dari bahasa Batak seperti Pancur, Fansur, Dolok, Toruan, Lintong Ni Huta, Sosor Gadong, Hauagong dan lain sebagainya. Benar tidaknya cerita tersebut, tidak ada yang tahu.
addthis_url='http://batak.blogspot.com/2009/02/tanah-batak-dan-tanah-tuhan.html'; addthis_title='Tanah Batak dan Tanah Tuhan'; addthis_pub='senget';